Krisis Ketersediaan Alamat Protokol Internet versi 4 (IPv4)

IP Address merupakan salah satu sumberdaya Internet yang terbatas jumlahnya dan menjadi satu-satunya sistem pengalamatan jaringan Internet. Sistem pengalamatan ini memungkinkan komunikasi antar jaringan di dalam Internet. Sejak 1983, sistem pengalamatan yang digunakan adalah IPv4 dengan jumlah sekitar 4 milyar. IANA sebagai lembaga pengelola alamat IP, menyatakan ketersediaan alamat IP telah semakin terbatas, tinggal 700 juta alamat IP (46 kali /8). Jumlah ini sangat kritis untuk dialokasikan mengingat pertumbuhan Internet saat ini di seluruh dunia sangat cepat. Perkembangan teknologi telekomunikasi di masa depan seluruhnya akan berbasis IP sehingga membutuhkan jumlah alamat yang sangat besar. Jauh lebih banyak, berkali lipat dari ketersediaan IPv4 saat ini.

Analis senior APNIC Mr. Geoff Houston melakukan proyeksi matematis model konsumsi IP. Proyeksi tersebut menunjukkan alokasi IPv4 di tingkat IANA akan habis pada tahun 2010 dan akan disusul penyerapan pada tingkat regional pada tahun 2011. Sedangkan pada tingkat pengguna (lokal) akan habis maksimal pada tahun 2012. Model konsumsi IP hasil proyeksi Mr. Geoff Housten menunjukkan adanya percepatan penggunaan IPv4 yang sebelumnya pada tahun 2006 diperkirakan baru akan habis pada tahun 2014.

Proyeksi kebutuhan alamat IPv4 di Indonesia sampai tahun 2012 akan mencapai tingkat pertumbuhan sejalan dengan jumlah pengguna Internet yaitu mencapai 80 juta. Namun pada kenyataannya penyerapan dan pemanfaatan alokasi alamat IP masih sangat terbatas. Pada awal tahun 2008 dengan tingkat pengguna Internet akan mencapai hampir 30 juta orang, distribusi IPv4 baru mencapai jumlah 500 ribuan (setara /13). Kondisi ini sangat tidak seimbang dan tidak dapat memenuhi kebutuhan perkembangan dan pertumbuhan infrastruktur, pengguna dan aplikasi Internet Indonesia.

Infrastruktur jaringan Internet terus bertambah, semakin merata dan terjangkau harganya. Pada tahun 2010 jaringan Fiber Optik proyek Palapa Ring akan mulai beroperasi. Jaringan ini pada 2012 akan menghubungkan 50% dari 465 kota di Indonesia dengan total kapasitas mencapai 600 Gbps. Jaringan ini akan menyumbang sedikitnya 10 juta pengguna Internet baru. Sedangkan jaringan Internet pendidikan yang telah mulai dibangun sejak tahun 2006, diperkirakan pada 2012 akan menghubungkan 30 juta siswa ke Internet. Jaringan e-Government yang saat ini sedang dirintis akan berpotensi menyumbangkan 70 juta pengakses baru dan akses Internet mobile (selular dan BWA) akan menghubungkan 10 juta pengakses.

Aplikasi Internet serta berbagai layanan konten juga akan meningkat pesat. Selain aplikasi bisnis, yang akan banyak membutuhkan alamat IP adalah penyelenggara konten pendidikan dan pemerintahan serta layanan mobile. Pemanfaatan sumber daya Internet seperti domain dan IP akan bergeser dari institusi menjadi individual. Dari perkantoran dan sekolah, beralih ke rumah dan layanan mobile. Teknologi akan makin konvergen dan berjalan pada platform tunggal berbasis IP. Akan timbul ketergantungan terhadap alamat IP. Keterbatasan ketersediaan alokasi IPv4 secara pasti akan menghambat laju pertumbuhan Internet yang artinya akan menurunkan daya saing bangsa Indonesia, sehingga mengakibatkan timbulnya kompetisi antar negara untuk mendapatkan alokasi IP lebih banyak demi mencukupi kebutuhannya. Pemerintah Indonesia bersama komunitas Internet nasional akan memperjuangkan alokasi IP hingga sedikitnya sejumlah 32 juta alamat (setara 2 x /8) sebagai solusi jangka pendek sampai dengan tahun 2012 demi mengamankan kepentingan nasional dan stabilitas Internet.

Untuk menghindari terjadinya krisis, Pemerintah Indonesia dan komunitas Internet nasional telah menyiapkan langkah antisipasi, antara lain :

  1. Mengupayakan perubahan kebijakan alokasi alamat IPv4 tingkat regional (APNIC) agar mempertimbangkan kebutuhan negara yang potensi pertumbuhan infrastruktur, konten dan pengguna Internetnya sangat besar seperti Indonesia. Jangan sampai negara yang lebih kecil skalanya bisa mendapat alokasi IPv4 lebih banyak seperti terjadi saat ini
  2. Pemberian insentif alokasi baru IPv6 berupa tarif yang relatif rendah untuk permintaan alokasi IPv6.
  3. Perubahan road map transisi menuju IPv6 dan menyelenggarakan berbagai program untuk mendorong percepatan implementasi. Diharapkan menjelang tahun 2012 proses transisi ini akan mampu mengambil alih dan memindahkan jaringan IPv4 ke IPv6.

IPv6 adalah solusi satu-satunya krisis alokasi IPv4. IPv6 memiliki banyak kelebihan seperti kemanan, kemampuan konfigurasi dan routing otomatis serta jumlah pengalamatan yang mencapai 2^128, setara dengan setiap inci permukaan bumi. Jauh lebih banyak dari IPv4 yang hanya sejumlah 4 Milyar. Akan tetapi, riset, pengembangan dan implementasi IPv6 sejauh ini masih sangat terbatas dan jauh lebih lambat dibandingkan percepatan konsumsi IPv6. Belum ada satu pun negara yang merasa telah memiliki kemampuan dan keterampilan dalam mengelola IPv6. Koordinasi antar negara juga masih sangat rendah. Sehingga ada kekhawatiran IPv6 tidak akan siap menggantikan IPv4 pada saat puncak krisis tercapai. Bila semula krisis diproyeksikan terjadi pada tahun 2018 – 2025, ternyata laju percepatan pada saat ini diperkirakan akan mencapai puncaknya pada tahun 2012.

Implementasi IPv6 memang masih belum populer. Banyak hal menjadi kendala, seperti belum banyaknya translator jaringan IPv4 ke jaringan IPv6, kelambanan dan keengganan para Penyelenggara Jasa Internet (ISP) untuk memulai adopsi IPv6 ke dalam jaringannya karena perlu investasi baru yang tidak sedikit pada sistem inti dan pendukung. Hingga masalah belum tersedianya perangkat dan aplikasi yang secara native berjalan pada IPv6 serta pengguna akhir yang belum siap dengan perubahan tersebut.

Akan tetapi, sebenarnya seluruh pemangku kepentingan Internet nasional sebenarnya telah menyadari bahwa kondisi krisis alamat IP ini cepat atau lambat pasti akan terjadi. Tinggal masalah membangun kesepakatan untuk melakukan upaya percepatan penanggulangan, salah satunya dengan transisi menuju ke IPv6 secara menyeluruh. Pemerintah bersama pemangku kepentingan Internet nasional pada tahun 2006 berinisiatif membentuk Indonesia IPv6 Task Force (ID-IPv6TF), yaitu gugus tugas yang dibentuk untuk melakukan koordinasi dengan seluruh unsur terkait di dalam industri Internet Indonesia dan dalam perjalanannya selama ini telah menjalankan road map sbb.:

2006

Tahapan Sosialisasi, Riset dan Pengembangan Teknis IPv6 •  Sosialisasi :

•  Teknologi, standar dan policy global

•  Peningkatan pengetahuan IPv6 dan mendorong peran serta komunitas

•  Melakukan sosialisasi hasil pengembangan model implementasi dan regulasi

•  Pengembangan model implementasi :

•  Menyusun best practice implementasi

•  Membangun jaringan IPv6 terbatas

•  Dokumentasi model implementasi IPv6

•  Pengembangan policy nasional :

•  Identifikasi materi-materi policy nasional yang akan dimuat

•  Menyusun draft policy nasional

•  Menyusun regulasi

•  Konsultasi publik

•  Peran serta dalam komunitas global :

•  Pengembangan IPv6, standarisasi, policy, dan Internet governance

2007

Tahapan Pengembangan Infrastruktur dan Konten berbasis IPv6 •  Meningkatkan produk nasional berbasis Ipv6 berkoordinasi dengan riset perguruan tinggi

•  Evaluasi skema implementasi dan distribusi IPv6 nasional

•  Evaluasi proses transisi oleh Pemerintahan dan lembaga publik

•  Evaluasi implementasi dan penggunaan infrastruktur IPv6 nasional

•  Evaluasi keamanan jaringan IPv6

2008

Tahapan Pengembangan Aplikasi dan Proses Transisi •  Menyelenggarakan pelatihan-pelatihan untuk membentuk trainer dan instruktur

•  Desain jaringan dan upgrade aplikasi eksisting

•  Percepatan proses transisi IPv4 ke IPv6

•  Mengembangkan potensi aplikasi

•  Menciptakan programer aplikasi IPv6

•  Monitoring dan evaluasi implementasi transisi eksisting

Sebagian besar target road map memang telah tercapai, akan tetapi sejumlah agenda tidak dapat tercapai akibat masih rendahnya tingkat pemahaman publik, termasuk dari kalangan para pemangku kepentingan sendiri. Akibatnya, tingkat partisipasi terhadap road map IPv6 juga sangat terbatas. Sehingga dipandang perlu untuk melakukan perubahan road map dan agenda transisi IPv6 menyesuaikan kondisi faktual saat ini. Rancangan road map IPv6 versi revisi akan diawali pada tahun 2008 dan akan lebih banyak menekankan urgensi upaya migrasi dari IPv4 dan implementasi IPv6. Diharapkan dengan perubahan ini akan dapat meningkatkan perhatian dan sense of crisis dari para pemangku kepentingan. Road map akan terbagi dalam 3 pentahapan:

2008

Tahapan Persiapan •  Inventarisasi Infrastruktur:

•  Konsolidasi IPv4 yang telah teralokasi (APJII, IX, IP historical) untuk memetakan total IP existing

•  Identifikasi kebutuhan IP (e-gov, jardiknas, operator jaringan, dll.)

•  Training Need Analysis

•  Menggalakkan program pelatihan IPv6 lintas sektoral

•  Mencari peluang pelatihan spesifik IPv6 secara meluas (indonesia brainware – Pakistan case?)

•  Threat & Risk Assessment

•  Insentif untuk penggunaan IP public (IPv4? IPv6?)

•  Implementasi Dual capable network di backbone infrastructure dan IX

•  Procurement Policy Review

•  Persyaratan kompatibilitas IPv6 di seluruh pengadaan perangkat infrastruktur (operator & pemerintah)

•  Building (comprehensive) IPv6 Awareness

•  Dorongan penggunaan IP public di seluruh NAP, ISP

•  Reminder kepada CIO operator, instansi pemerintah dan corporate user

•  Reminder kepada KPDE/BPDE

•  Stimulan untuk katalis aplikasi berbasis IPv6 (melalui mis. Sayembara)

•  Event IPv6 portability (awareness untuk vendor perangkat)

2009

2011

Tahapan Transisi •  Inventarisasi Infrastruktur lanjutan

•  Pertumbuhan aplikasi (konten) berbasis IPv6

•  Joint IPv6 network (B2B)

2012

Tahapan Implementasi •  Aplikasi (content) berbasis IPv6 meluas

•  Jaringan IPv6 in-place

•  Dual capable network still in-place

Selanjutnya Taskforce IPv6 Nasional akan lebih meningkatkan koordinasi. Salah satunya dengan menyusun rincian kegiatan bersama masing-masing pemangku kepentingan terkait dan secara intensif melakukan pemantauan pelaksanaannya. Dengan demikian, akan dapat dipastikan terjadinya pencapaian road map sesuai yang diharapkan.

Advertisements

Leave a comment

No comments yet.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s